Looking For Translator?

Pertempuran Medan Area


   Latar Belakang Pertempuran Medan Area
   Pada tanggal 9 november 1945, pasukan Sekutu dibawah pimpinan Brigadir Jenderal T.E.D. Kelly mendarat di Sumatera Utara yang dikuti oleh pasukan NICA. Brigadir ini menyatakan kepada pemerintah RI akan melaksanakan tugas kemanusiaan, mengevakuasi tawanan dari beberapa kamp di luar Kota Medan. Dengah dalih menjaga keamanan, para bekas tawanan diaktifkan kembali dan dipersenjatai
Latar belakang pertempuran Medan Area, antara lain:
1)   Bekas tawanan yang menjadi arogan dan sewenang-wenang.
2)   Ulah seorang penghuni hotel yang merampas dan menginjak-injak lencana merah putih.
3)   Ultimatum agar pemuda Medan menyerahkan senjata kepada Sekutu.
4.                  Pemberian batas daerah Medan secara sepihak oleh Sekutu dengan memasang papan pembatas yang bertuliskan “Fixed Boundaries Medan Area (Batas Resmi Medan Area)” di sudut-sudut pinggiran Kota Medan.

     Pertempuran Medan Area
   Pada tanggal 24 Agustus 1945, antara pemerintah Kerajaan Inggris dan Kerajaan Belanda tercapai suatu persetujuan yang terkenal dengan nama civil Affairs Agreement. Dalam persetujuan ini disebutkan bahwa panglima tentara pendudukan Inggris di Indonesia akan memegang kekuasaan atas nama pemerintah Belanda.
   Dalam melaksanakan hal-hal yang berkenaan dengan pemerintah sipil, pelaksanaannya diselenggarakan oleh NICA dibawah tanggungjawab komando Inggris. Kekuasaan itu kelak di kemudian hari akan dikembalikan kepada Belanda. Inggris dan Belanda membangun rencana untuk memasuki berbagai kota strategis di Indonesia yang baru saja merdeka. Salah satu kota yang akan didatangi Inggris dengan “menyelundupkan” NICA Belanda adalah Medan.
   Sementara di tempat lain pada tanggal 27 Agustus 1945 rakyat Medan baru mendengar berita proklamasi yang dibawa oleh Mr. Teuku Moh Hassan sebagai Gubernur Sumatera. Mengggapi berita proklamasi para pemuda dibawah pimpinan Achmad lahir membentuk barisan Pemuda Indonesia.
   Pada tanggal 9 Oktober 1945 rencana dalam Civil Affairs Agreement benar-benar dilaksanakan. Tentara Inggris yang diboncengi oleh NICA mendarat di Medan. Mereka dipimpin oleh Brigjen T.E.D Kelly.
   Awalnya mereka diterima secara baik oleh pemerintah RI di Sumatra Utara sehubungan dengan tugasnya untuk membebaskan tawanan perang (tentara Belanda). Sebuah insiden terjadi di hotel Jalan Bali, Medan pada tanggal 13 Oktober 1945.
   Saat itu seorang penghuni hotel (pasukan NICA) merampas dan menginjak-injak lencana Merah Putih yang dipakai pemuda Indonesia. Hal ini mengundang kemarahan para pemuda. Akibatnya terjadi perusakan dan penyerangan terhadap hotel yang banyak dihuni pasukan NICA. Pada tanggal 1 Desember 1945, pihak Sekutu memasang papan-papan yang bertuliskan Fixed Boundaries Medan Area di berbagai sudut kota Medan.
   Sejak saat itulah Medan Area menjadi terkenal. Pasukan Inggris dan NICA mengadakan pembersihan terhadap unsur Republik yang berada di kota Medan. Hal ini jelas menimbulkan reaksi para pemuda dan TKR untuk melawan kekuatan asing yang mencoba berkuasa kembali. Pada tanggal 10 Agustus 1946 di Tebingtinggi diadakan pertemuan antara komandan-komandan pasukan yang berjuang di Medan Area. Pertemuan tersebut memutuskan dibentuknya satu komando yang bernama Komando Resimen Laskar Rakyat Medan Area.
  Pada tanggal 10 desember 1945, Sekutu dan NICA melancarkan serangan besar-besaran terhadap kota Medan. Serangan ini menimbulkan banyak koraban di kedua belah pihak. Pada bulan April 1946, Sekutu berhasil menduduki kota Medan. Pusat perjuangan rakyat Medan kemudian dipindahkan ke Pemantangsiantar.
  Untuk melanjutkan perjuangan di Medan maka pada bulan Agustus 1946 dibentuk Komando Resimen Laskar Rakyat Medan Area. Komandan initerus mengadakan serangan terhadap Sekutu diwilayah Medan. Hampir di seluruh wilayah Sumatera terjadi perlawanan rakayat terhadap Jepang, Sekutu, dan Belanda. Pertempuran itu terjadi, antara lian di Pandang, Bukit tinggi dan Aceh.

    Jalannya Pertempuran Medan Area
  Pertempuran Medan Area dimulai dari bentrokan tanggal 13 Oktober 1945, baru empat hari setelah pasukan Inggris sampai di Medan, meledak suatu konflik bersenjata antara para pemuda revolusioner dengan pasukan NICA-Belanda. Peristiwa itu terjadi akibat adanya provokasi langsung seorang serdadu Belanda yang bertindak merampas lencana merah putih (sudah disebutkan di bagian sebelumnya) yang tersemat di peci seorang penggalas pisang yang melintas di depan Asrama Pension Wilhelmina, Jalan Bali (sekarang Jalan Veteran). Ratusan pemuda yang berada ditempat itu meny­erang serdadu itu dengan senjata pedang, pisau, bambu runcing, dan beberapa senjata api. Dalam peristiwa itu timbul korban sebagai berikut : 1 orang opsir  yaitu Letnan Goeneberg dan 7 orang serdadu NICA meninggal. Beberapa warga negara Swiss luka dan meninggal, dan 96 orang serdadu NICA luka-luka termasuk seorang laki-laki sipil dan 3 orang wani­ta. Di pihak Indonesia gugur 1 orang (menurut prasasti yang didirikan 7 orang) dan luka berat satu orang. Lokasi pertempuran saat ini berada dekat dengan Pusat Pasar.
  Peristiwa Jalan Bali itu segera tersiar ke seluruh pelosok kota Medan, bahkan ke seluruh daerah Sumatera Utara dan  menjadi sinyal bagi kebanyakan pemuda, bahwa perjuangan menegakkan proklamasi telah dimulai. Darah orang Belanda dan kaum kolonialis harus ditumpahkan demi Revolusi Nasional. Akibatnya dengan cepat bergelora semangat anti Belanda di seluruh Sumatera Timur. Diantara pemuda itu adalah Bedjo, salah seorang pemimpin laskar rakyat di Pulo Brayan. Bedjo bersama pasukan selikur­nya pada tanggal 16 Okto­ber 1945, tengah hari setelah sehari sebelumnya terjadi peristiwa Siantar Hotel, menyerang gudang senjata Jepang di Pulo Brayan untuk memperkuat persenjataan. Setelah melakukan serangan terhadap gudang perbekalan tentara Jepang, Bedjo dan pasukannya kemudian menyerang Markas Tentara Belanda di Glugur Hong dan Halvetia, Pulo Brayan. Dalam pertempuran yang berlangsung malam hari, pasukan Bedjo yang menyerang Helvetia berhasil menewaskan 5 orang serdadu KNIL. Serangan yang dilakukan oleh para pemuda di Jalan Bali dan Bedjo itu telah menyentakkan pihak Sekutu (Inggris). Mereka mulai sadar bahwa para pemuda-pemuda Republik telah memiliki persenjataan dan semangat kemerdekaan yang pantas diperhi­tungkan.
  Sementara itu, di simpang Jalan Deli dan Jalan Serdang yang sekarang disebut Jalan Perintis Kemerdekaan, pecah bentrokan lain. Bentrokan pecah di sebuah masjid di sana. Para pejuang yang dipimpin Wiji Alfisa dan Zain Hamid bertempur dengan tentara Inggris pada 17 Oktober 1945. Mereka berhasil bertahan dari gempuran Inggris hingga pada 20 Oktober 1945, Inggris memutuskan untuk menghancurkan masjid tempat mereka bertahan. Setelah perang, masjid lain dibangun diatasnya untuk mengenang perjuangan mereka. Masjid itu dinamai Masjid Perjuangan 45.
  Oleh karena itu sebagai tentara yang ditugaskan untuk menjaga keamanan dan ketertiban, Komandan Inggris Brigadir Jenderal TED Kelly pada tanggal 18 Oktober 1945 mengeluar­kan sebuah ultimatum yang berbunyi seba­gai berikut, bahwa bangsa Indonesia dilarang keras membawa senjata, termasuk senjata tajam, seperti pedang, tombak, keris, rencong dan sebagainya. Senjata-senjata itu harus diserahkan kepada tentara Sekutu. Kepada para komandan pasukan Jepang diperintahkan untuk tidak menyerahkan senjatanya kepada TKR dan Laskar rakyat, dan harus meny­erahkan semua daftar senjata api yang dimilikinya kepada Sekutu. Pada tanggal 23 Oktober 1945, pasukan Inggris kemudian melakukan penggerebekan di dalam kota Medan dan sekitarnya. Dalam penggerebekan itu mereka berhasil menda­patkan 3 pistol, 1 senapan, 1 granat kosong, 2 ranjau rakitan sendiri, 6 granat tangan, 3 senapan tiga kaki, 36 pedang, 10 pisau, 4 denator listrik, dan 6 tombak.
  Sejak tentara Inggris melakukan razia di sekitar Medan, kecurigaan masyarakat terhadap Inggris bertambah besar. Patroli tentara Inggris  sampai ke Sunggal, Pancur Batu, Deli Tua, Tanjung Morawa, Saentis, bahkan ada serda­du-serdadu dan perwira Inggris yang berjalan-jalan sendiri ke luar kota Medan dan Belawan. Di samping itu Komandan Inggris untuk Sumatera, Mayor Jendral Chambers, menegaskan bahwa Pasukan Jepang diberikan kekuasaan untuk mengamankan daerah-daerah di luar kota Medan, Bukit Tinggi, dan Palembang. Kondisi itu akhirnya menimbulkan konflik ber­senjata dengan para pemuda Republik baik yang bergabung dengan TKR maupun dengan Laskar Rakyat.
  Demikianlah pada tanggal 2 Desember 1945, dua orang serdadu Inggris yang sedang mencuci trucknya di Sungai dekat Kampung Sungai Sengkol telah diserang oleh TKR. Kedua serdadu Inggris itu tewas, dua buah senjata dan trucknya dirampas. Dua hari kumudian, seorang perwira Inggris tewas terbunuh  di sekitar Saentis. Akibatnya pasukan Inggris terus melakukan patroli di sekitar Medan, dan mereka mulai bertindak kasar. Pada tanggal 6 Desember 1945, tentara Inggris datang mengepung Gedung Bioskop Oranye di Kota Medan. Mereka kemudian merampas semua filem di gedung tersebut. Tindakan tentara Inggris itu menyebab­kan para pemuda segera mengepung gedung bioskop itu, sehingga timbullah pertempuran kecil, yang berakhir dengan tewasnya seorang tentara Inggris.
  Beberapa jam setelah peristiwa “Oranje Bioscop”, markas Pesindo di Jalan Istana dan markas Pasukan Pengawal Pesindo di sekolah Derma dirazia oleh tentara Inggris. Di sepanjang Jalan Mahkamah dan Jalan Raja, tentara Inggris melakukan show of force. Tidak lama sesu­dah itu, markas TKR di bekas restoran Termeulen diobrak-abrik dan penghuninya diusir oleh tentara Inggris. Pada malam harinya para pemuda dan anggota TKR menyerang gedung itu dengan granat botol, sehingga gedung itu terbakar. Pada tanggal 7, 8, dan 9 Desember 1945, siang dan malam hari di mana-mana asrama tentara India-Inggris/NICA diserang oleh pemuda dan TKR. Akibat serangan itu tentara Inggris/NICA  pada tanggal 10 Desember 1945 menyerang markas TKR di Deli Tua (Two Rivers). Tiga hari kemudian, Brigadir Jenderal T.E.D. Kelly kembali mengeluarkan Maklumat yang meminta agar Bangsa Indonesia harus menyerahkan senjatanya kepada tentara Sekutu dan barang siapa memegang senjata di dalam kota Medan dan 8,5 Km dari batas kota Medan dan Belawan akan ditembak mati.
  Untuk menindaklanjuti intruksi itu pada bulan Maret 1946 pasukan Sekutu/Inggris kembali melakukan razia ke basis-basis laskar rakyat di sekitar Tanjung Morawa. Barisan Pelopor dan Laskar Napindo yang berada berada di daerah ini kemudian mencegat pasukan Inggris sehingga terjadi baku tembak. Pertempuran kemudian berkobar selama dua hari  dan akhirnya pasukan Inggris menarik pasukannya dari Tanjung Morawa. Namun demikian pasukan sekutu terus melakukan razia di dalam kota. Akibatnya pada pertengahan April 1946, Markas Divisi IV berserta seluruh stafnya dan Kantor Gubernur Sumatera dan semua jawatan-jawatannya pindah ke Pematang Siantar.
  Sejak pindahnya Komando Militer dan Pemerintahan Republik ke Pematang Siantar pasukan Inggris setiap hari melancarkan serangan ke kubu-kubu TRI dan Laskar Rakyat di sekitar Medan Area. Pada akhir bulan Mei, selama satu minggu mereka menggempur habis kampung-kampung di sekitar kota Medan. Akibat serangan itu tentu saja membuat penduduk sipil mengungsi ke luar kota, seper­ti ke Tanjung Morawa, Pancur Batu, Binjai, Tebing Tinggi, Pematang Siantar, dan sebagainya. Kampung-kampung seperti Sidodadi, Tempel, Sukaramai, Jalan Antara, Jl. Japaris, Kota Maksum, Kampung Masdjid, Kampung Aur, Sukaraja, Sungai Mati, Kampung Baru, Padang Bulan, Petisah Darat, Petisah Pajak Bundar, Kampung Sekip, Glugur, dan sebagai­nya menjadi sepi. Meskipun demikian Inggris tidak leluasa bergerak ke luar kota, karena laskar rakyat dan TRI siap menghadangnya.
  Sampai akhir bulan Juli 1946 pasukan republik yang bertempur di Medan Area bergerak tanpa komando. Karena itu pada bulan  Agustus 1946 dibentuklah Komando Resimen Laskar Rakyat Medan Area (K.R.L.R.M.A.). Kapten Nip Karim dan Marzuki Lubis dipilih sebagai Komandan dan Kepala Staf Umum. KRLMA membawahi laskar Napindo, Pesindo, Barisan Merah, Hisbullah, dan Pemuda Parkindo. Setiap pasukan disusun dalam formasi batalion yang terdiri dari empat kompi.  Medan Area dibagi dalam empat sektor dan tiap sektor terdiri atas dua sub-sektor. Markas Komando ditempatkan di Two Rivers (Treves).
  Dalam pada itu Belanda mulai mengarah­kan kekuatan militernya ke Sumatera dalam rangka mengaman­kan sumber ekonomi yang vital di Sumatera Timur. Untuk  itu, maka pada awal bulan Oktober 1946 satu batalion pasukan bersen­jata dari negeri Belanda mendarat di Medan. Beberapa hari kemudian diikuti dengan satu batalion KNIL dari Jawa Barat. Gerakan militer pasukan Belanda ini tidak bisa dilepaskan dengan adanya rencana Inggris yang ingin sece­patnya meninggalkan Indonesia. Semua instasi penting yang ada di Medan Area segera diserahkan kepada Komandan Mili­ter Belanda. Pasukan Belanda kemudian mengambil alih semua tugas penyerangan terhadap pangkalan militer Republik di sekitar Medan Area. Unit-unit militer Republik, baik TRI maupun laskar rakyat segera bereaksi menanggapi pengambi­lalihan Belanda dan mulai meningkatkan serangannya terha­dap patroli-patroli Belanda maupun Inggris. Hingga akhir tahun 1946, berbagai bentrokan fisik antara kekuatan militer Republik dengan Belanda terus terjadi di segala front Medan Area.
  Atas prakarsa pimpinan Divisi Gajah dan KRIRMA pada 10 Oktober 1941 disetujui untuk mengadakan serangan bersama. Sasaran yang akan direbut di Medan Timur adalah Kampung Sukarame, Sungai Kerah. Di Medan barat ialah Padang Bulan, Petisah, Jalan Pringgan, sedangkan di Medan selatan adalah kota Matsum yang akan jadi sasarannya. Rencana gerakan ditentukan, pasukan akan bergerak sepanjang jalan Medan-Belawan. Hari "H" ditentukan tanggal 27 Oktober 1946 pada jam 20.00 WIB, sasaran pertama Medan Timur dan Medan Selatan. Tepat pada hari "H", batalyon A resimen laskar rakyat di bawah Bahar bergerak menduduki Pasar Tiga bagian Kampung Sukarame, sedangkan batalyon B menuju ke Kota Matsum dan menduduki Jalan Mahkamah dan Jalan Utama. Di Medan Barat batalyon 2 resimen laskar rakyat dan pasukan Ilyas Malik bergerak menduduki Jalan Pringgan, kuburan China dan Jalan Binjei.
  Patut diketahui, bahwa beberapa waktu yang lalu, pihak Inggris telah menyerahkan sebagian kekuasaannya kepada Belanda. Pada saat sebagian pasukan Inggris bersiap-siap untuk ditarik dan digantikan oleh pasukan Belanda, pasukan kita menyerang mereka. Gerakan-gerakan batalyon-batalyon resimen Laskar Rakyat Medan Area rupanya tercium oleh pihak Inggris/Belanda. Daerah Medan Selatan dihujani dengan tembakan mortir. Pasukan kita membalas tembakan dan berhasil menghentikannya.

   Peran Para Pemuda dalam Pertempuran Medan Area
  Para pemuda memegang peran penting dalam banyak peristiwa bersejarah negara ini. Sebut saja, Proklamasi Kemerdekaan, Pertempuran Surabaya, hingga Reformasi. Di Pertempuran Medan Area ini juga, peran pemuda sangat kentara dalam setiap pertempuran.
  Di awal bagian jalan pertempuran sebelumnya, terdapat kisah mengenai insiden Jalan Bali. Jika ditilik pada prasasti penanda yang didirikan, nampak bahwa para pemuda lah yang melakukan penyerbuan ke markas NICA di Gedung Pension Wilhelmina. Selain itu, berbagai laskar rakyat yang ada dibentuk oleh pemuda seperti Pemuda Republik Indonesia Sumatera Timur (Pesindo). Ada juga organisasi pemuda yang terafiliasi ke partai seperti Napindo (Nasional Pelopor Indonesia) dari PNI, Barisan Merah dari PKI, Hisbullah dari Masyumi dan Pemuda Parkindo dari Parkindo. Selain itu, banyak dari tokoh pejuang yang berusia dibawah 30 tahun. Contohnya, Brigjend. Bedjo dan Jend. Ahmad Tahir, 2 tokoh pejuang yang terlibat dalam Pertempuran Medan Area yang saat itu terjadi, umur mereka masih dibawah 30 tahun.
  Ketika pertempuran yang terjadi belum terorganisir dengan baik pada tahun 1945 – 1946, para pemuda selalu yang berada di garis depan dan bertempur dengan heroik melawan Belanda. Semangat para pemuda pulalah yang sering membuat Sekutu – baik Inggris maupun Belanda – kerepotan.
  Apa yang membuat pemuda pejuang saat itu begitu kuat dan sulit dilawan penjajah ? Menurut saya, itu semua akibat jiwa nasionalisme dan darah muda mereka. Jiwa nasionalisme mereka membuat semangat mereka menggelora untuk membela negerinya, dan darah muda mereka menambah semangat tersebut dan membuat mereka semakin nekat.
  Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa peran pemuda dalam Pertempuran Medan Area adalah :
1)  Ikut serta dalam setiap pertempuran yang terjadi
2)  Pengobar semangat rakyat untuk bertempur mempertahankan negaranya
3)  Ujung tombak bagi setiap kekuatan pasukan Republik Indonesia

  Ringkasan Kronologi
    Tokoh-tokohnya    : Brigjen T.E.D. Kelly dan Achmad Tahir
    Sebab meletusnya : Tawanan perang yang dibebaskan sekutu dipersenjatai & bersikap congkak 
                                      sehingga menyebabkan terjadinya insiden di beberapa tempat.
    Jalannya Peristiwa :
   Pd tgl 18 Okt 1945, Sekutu mengultimatum rakyat Medan untuk menyerahkan senjatanya. NICA melakukan aksi teror yg menyebabkan pecahnya pertempuran shg banyak korban di pihak Inggris. Tgl 1 Des 1945 Sekutu memasang papan-papan yang bertuliskan Fixed Boundaries Medan Area di berbagai sudut pinggiran kota Medan. Pada bulan April 1946 pasukan Sekutu berhasil mendesak pemerintah RI keluar Medan. Pasukan Inggris dan NICA mengadakan pembersihan terhadap unsur Republik yang berada di kota Medan. Hal ini jelas menimbulkan reaksi para pemuda dan TKR untuk melawan kekuatan asing yang mencoba berkuasa kembali.
Akhir Peristiwa :
Pada tgl 10 Agustus 1946 di Tebingtinggi diadakan pertemuan antara komandan-komandan pasukan yang berjuang di Medan Area. Pertemuan tersebut memutuskan dibentuknya satu komando yang bernama Komando Resimen Laskar Rakyat Medan Area. Komando tersebut meneruskan perjuangan di Medan Area.
   Akibat Pertempuran Medan Area
  Pertempuran Medan Area berakhir pada 15 Februari 1947 pukul 24.00 setelah ada perintah dari Komite Teknik Gencatan Senjata untuk menghentikan kontak senjata. Sesudah itu Panitia Teknik genjatan senjata melakukan perundingan untuk menetapkan garis-garis demarkasi yang definitif untuk  Medan Area. Dalam perundingan yang berakhir pada tanggal 10 Maret 1947 itu, ditetapkanlah suatu garis demarkasi yang melingkari kota Medan dan daerah koridor Medan Belawan. Panjang garis demarkasi yang dikuasai oleh tentara Belanda dengan daerah yang dikuasai oleh tentara Republik seluruhnya adalah 8,5 Km. Pada tanggal 14 Maret 1947 dimulailah pemasangan patok-patok pada garis demarka­si itu. Akan tetapi kedua pihak, Indonesia dan Belanda, selalu bertikai mengenai garis demarkasi ini. Empat bulan setelah akhir pertempuran ini, Belanda melaksanakan Operatie Product atau disebut Agresi Militer Belanda I.
 Ada beberapa akibat dari Pertempuran Medan Area ini, yaitu :
1)   Terbaginya kawasan Medan oleh garis demarkasi
2)   Perpindahan pusat pemerintahan Provinsi Sumatera ke Pematang Siantar

Pemetaan Tanah Menggunakan Sistem Taksonomi Tanah

ANALISIS PEMETAAN TANAH MENGGUNAKAN SISTEM
TAKSONOMI TANAH

ABSTRAK
          Taksonomi berasal dari Bahasa Yunani, yang berarti ilmu pengelompokan. Dalam ilmutanah taksonomi digunkaan sebagai sarana untuk menentukan jenis jenis tanah sesuai dengan karakteristik wilayah persebarannya masing-masing. Tanah digolongkan menjadi 12 ordo secara umum, secara khusus tanah dikelompokkan lagi ke dalam sub ordo, great group, sub group, family, dan seri Taksonomi tanah dibuat oleh beberapa lembaga diantaranya FAO dan USDA, akan tetapi sistem yang dibuat oleh USDA lebih banyak menjadi kiblat klasifikasi tanah Internasional karena dianggap lebih up to date. Ulasan ini dikembangkan untuk membahas klasifikasi tanah berdasarkan sistem taksonomi serta cara dalam penerapannya guna mengelompokkan tanah dalam pemetaan.

Kata kunci : Tanah, Klasifikasi Tanah, USDA, Taksonomi Tanah.

PENDAHULUAN

          Taksonomi tanah adalah sistem klasifikasi tanah yang dikembangkan oleh USDA (United States Department of Agriculture). Sebagai suatu sistem klasifikasi tanah, taksonomi tanah memiliki kedudukan yang sama dengan berbagai sistem klasifikasi tanah di dunia yang telah kita bicarakan dalam perkuliahan sebelumnya. Namun demikian perlu kita catat disini bahwa taksonomi tanah merupakan sistem yang dikenal dan digunakan secara internasional. Walaupun suatu negara memiliki sistem klasifikasi nasional namun sistem taksonomi tanah tetap digunakan. Sartohadi dkk (2012) menjelaskan bahwa Walaupun banyak negara mengembangkan dan menggunakan sistem klasifikasi tanah nasional 2 masing-masing, tetapi soil taxonomy tetap dipelajari. Bahkan soil taxonomy juga
digunakan sebagai pembanding untuk mengkorelasikan dengan satuan-satuan
tanah yang dimilikinya.

          Brady dan Weil (2008) menjelaskan bahwa taksonomi tanah merupakan sistem klasifikasi tanah yang komprehensif. Taksonomi tanah menyediakan pengelompokan secara hirarki dari tubuh tanah. sistem ini berdasarkan ciri-ciri tanah yang secara objektif dapat diamati dan diukur daripada hanya sekedar berdasarkan pada mekanisme pembentukan tanah. Sistem menggunakan nomenklatur yang unik yang dapat memberikan konotasi definitif dari karakteristik utama tanah. Sistem ini merupakan sistem yang benar-benar internasional karena tidak berdasarkan pada bahasa tanah nasional tertentu. Sementara itu Sartohadi dkk (2012) menjelaskan satuan-satuan taksonomi tanah USDA merupakan alat komunikasi yang baik karena mencakup berbagai tingkatan skala pemanfaatan mulai dari skala detil hingga global. Sistem taksonomi tanah diterbitkan oleh USDA tahun 1975 dengan judul “Soil Taxonomy, A Basic System of Soil Classification for Making and Interpreting Soil Surveys”. 

          Sistem ini terus mengalami penyempurnaan dari buku yang terbit tahun 1975 yaitu dengan diterbitkannya seri buku tahun 1990, 1992, 1994, 1996, 1998 dan terakhir pada tahun 2006. Dalam taksonomi tanah, identifikasi jenis tanah dimulai dari membuat pedon kemudian mengidentifikasi horison diagnostik (epipedon dan endopedon) serta didukung dengan sifat diagnostik lainnya. Gambar 1. Hierarki penanaman tanah dalam sistem taksonomi tanah (Sumber: Brady and Weil, 2008) 

          Taksonomi tanah terdiri dari enam kategori mulai dari kategori tertinggi (global) ke kateogri terendah (detail) yaitu meliputi Ordo, Sub Ordo, Great Group, Sub Group, Family, dan Serie. Pada tingkat ordo terdapat 12 macam ordo tanah yaitu Alfisols, Andisols, Aridisols, Entisols, Gelisols, Histosols, Inceptisols, Mollisols, Oxisols, Spodosols, Ultisols, dan Vertisols. Faktor pembedanya adalah ada tidaknya horison diagnostik dan atau susunan horison diagnostik serta sifat diagnostik lain yang bukan berupa horizon. Ordo dibagi menjadi Sub Ordo dengan memperhatikan pembatas utama berupa rejim kelembapan tanah dan rejim suhu tanah. 

          Sub ordo adalah bagian dari ordo yang menekankan homogen genesa. Rejim kelembapan tanah dibedakan menjadi lima macam mulai dari yang paling basah ke yang paling kering berturut-turut adalah aquic, udic, ustic, aridic, dan xeric. Rejim suhu tanah dari yang paling dingin ke yang paling panas berturut-turut adalah cryik, frigis, mesik, termik, hipertermik. Semua level suhu tanah tersebut, kecuali cryik, mensyaratkan selisih suhu tertinggi dan terendah 60C. jika tidak ada selisih suhu tersebut maka diberi awalan iso di depan nama masing-masing suhu tanah. Perlu kita ketahui bahwa tidak semua ordo menggunakan kriteria yang sama untuk menurunkan dalam level sub ordo. Ada 4 ordo yang subordonya tidak didasarkan atas kelembapan dan suhu tanah yaitu gelisols, histosols, aridisols, dan entisols. Saat ini ada 53 satuan sub ordo. 

          Sub ordo diturunkan dalam tingkatan great group dengan memperhatikan faktor pembatas yang lebih detail rejim kelembapan dan suhu tanah. Great group adalah pengelompokan sub ordo yang didasarkan atas ada tidaknya horizon diagnostik dan susunan horizon yang terbentuk pada pedon. Great Group tanah dibedakan berdasarkan perbedaan: (1) jenis, (2) tingkat perkembangan, (3) susunan horison, (4) kejenuhan basa, (5) regi suhu, dan (6) kelembaban, serta (7) ada tidaknya lapisan-lapisan penciri lain, seperti: plinthite, fragipan, dan duripan. Tujuan pembuatan artikel ini ialah mempelajari pengertian dan sistem taksonomi, kemudian bagaimana penentuan jenis tanah dalam taksonomi, serta penerapannya dalam pemetaan tanah di suatu wilayah.


CARA PENENTUAN JENIS TANAH DALAM TAKSONOMI

     Dalam mengklasifikasi suatu tanah tertentu, pengguna taksonomi tanah memulai dengan melakukan pengecekan pada seluruh “Kunci Ordo Tanah”, guna menetapkan nama dari ordo pertama, yang berdasarkan kriteria tertulis, sesuai dengan tanah yang diklasifikasi. Langkah berikutnya, adalah mencari halaman yang ditunjukkan, untuk memperoleh “Kunci Subordo” dari ordo yang bersangkutan. Selanjutnya, pengguna secara sistematis mempelajari seluruh kunci untuk mengidentifikasi subordo dari tanah yang diklasifikasi, yaitu pertama dijumpai dalam daftar, semua kriteria yang diperlukan dipenuhi oleh tanah yang diklasifikasi. Prosedur yang sama digunakan untuk mengidentifikasi kelas grup dari tanah yang diklasifikasi, yang terdapat dalam “Kunci Grup” dari subordo yang telah ditemukan sebelumnya. Dengan cara yang sama, mempelajari seluruh “Kunci Subgrup”, pengguna memilih nama subgrup yang tepat, yaitu nama takson pertama yang semua kriteria yang diperlukan telah dipenuhi oleh tanah yang diklasifikasi.

     Dengan cara seperti di atas, famili tanah ditentukan, sesudah nama subgrup ditetapkan. Sebagaimana pengguna akan menggunakan kunci-kunci yang lain di dalam taksonomi ini. Dalam Kunci Ordo Tanah dan berbagai kunci lain yang mengikutinya, horizon dan sifat-sifat diagnostik yang disebutkan, tidak mencakup horizon dan sifat diagnostik lain yang berada di bawah sebarang kontak densik,litik, paralitik, atau petroferik. Sifat-sifat tanah tertimbun dan sifatsifat suatu tutupan permukaan menjadi bahan pertimbangan yang mendasari benar atau tidaknya tanah memenuhi pengertian istilah tanah tertimbun. Taksonomi tanah terdiri dari enam kategori dengan sifat-sifat faktor pembeda mulai dari kategori tertinggi (global) ke kategori terendah (detail), sebagai berikut:

     Ordo: terdiri dari12 satuan. Faktor pembeda pada kategori ordo adalah ada tidaknya horison diagnostik dan atau susunan horison diagnostik serta sifat diagnostik yang lain yang bukan berupa horison. Subordo: terdiri dari 53 satuan. Faktor pembeda adalah pembatas utama dalam pemanfaatan tana[ khususnya untuk kepentingan pertanian. Pembatas utama yang digunakan untuk pembeda dalam kategori Subordo adalah regim kelembaban dan regim suhu tanah. Ada empat satuan ordo yang dibedakan pada kategori Subordo tidak berdasarkan regim kelembaban dan regim suhu tanah, yaitu Gelisols, Histosols, Aridisols, dan Entisols.

         Greatgroup: pada saat ini dikenal 250 satuan. Faktor pembeda pada kategori .Greatgroup adalah faktor pembatas yang lebih detail dibandingkan dengan regim kelembaban dan regim suhu tanah. Ada banyak faktor pembatas yang dapat dipertimbangkan, namun semua faktor pembatas tersebut harus telah meninggalkan ciri morfologis pada profil tanah.

     Subgroup: pada saat ini jumlah satuan tanah pada kategori subgroup masih terus bertambah seiring semakin luasnya penerapan sistem taksonomi untuk pemetaan wilayah-wilayah yang belum dipetakan sebelumnya. Pada kategori subgroup, satuan-satuan tanah dikelompokkan ke dalam tiga golongan, yaitu: typical, interchange (peralihan ke ordo atau subordo atau Greatgroup yang rain), dan extragrade (kasus penyebab perkembangan khusus yang ekstrem). Famili: jumlah satuan tanah dalam kategori Famili masih terus bertambah. Faktor pembedanya adarah sifat-sifat tanah yang penting untuk pengelolaan tanah baik untuk kepentingan pertanian ataupun keteknikan(engineering). sifat sifat tanah yang sering digunakan sebagai faktor pembeda untuk famili antara lain adalah:  sebaran besar butir, ketebalarn tipe mineral lempung, dan regim temperatur. Seri: jumlah satuan seri tanah masih terus bertambah, di Amerika saja sudah dikenal kurang lebih 12.000 satuan seri tanah. Faktor pembedayang digunakan adalah sama dengan pembeda famili, namun rentang klasifikasi yang
digunakan lebih terperinci.

    Penggunaan jenis-jenis sifat pembeda yang seragam dalam menentukan taksa dalam masing-masing kategori adalah sangat ideal dalam teori klasifikasi. Walaupun demikian dalam klasifikasi tanah hal tersebut sulit dilakukan karena sifat tanah yang sangat beragam dan kompleks. Sebagai contoh misalnya regirn kelembaban umurmya cocok digunakan untuk membedakan berbagai ordo tanah ke dalam subordo kecuali untuk ordo Aridisols dan Histosols. Untuk tanah beriklim kering (Aridisols) regim kelembaban tidak relevan lagi untuk digunakan sebagai faktor pembeda subordo, sehingga digunakan faktor pembeda lain. untuk tanah Histosols yang umumnya selalu tergenang air, regim kelembaban atau pembeda lain yang digunakan untuk membedakan subordo dalam tanah lain iuga dianggap tidak relevan untuk digunakan pada tanah Histosols. Faktor pembeda untuk Histosols pada kategori subordo adalah tingkat dekomposisi bahan organik (fibrist, hemist, saprist).

    Teknik penamaan tanah pada sistem taksonomi harus urut dari kategor ordo hingga seri. Pada setiap kategori pemberian nama juga tidak boleh terbolakbalik karena semua satuan yang ada disusun sedemikian mengikuti logika klasifikasi tahap demi tahap.

PENERAPAN SISTEM TAKSONOMI DALAM PEMETAAN TANAH

         Penyebaran jenis dan karakter tanah di suatu daerah, biasanya disusun dalam suatu bentuk Peta Tanah. Peta ini sangat berguna bagi para petani dan telah disusun berdasarkan hasil penelitian dan pengamatan langsung (observasi) di lapangan. Para pengambil kebijakan sebaiknya mempertimbangkan pula penyebaran jenis tanah berdasarkan Peta Tanah yang telah dibuat. Peta Tanah dibuat secara berjenjang, misalnya Peta Tanah seluas wilayah kabupaten atau kecamatan (Hasriyanti, dkk, 2016: 12).

       Penampakan wilayah permukaan bumi yang disajikan dalam bentuk peta dapat difungsikan untuk berbagai keperluan, salah satunya ialah untuk keperluan budidaya pertanian. Dengan menggunakan analisis peta, kita akan mudahmenentukan daerah atau wilayah mana saja yang cocok untuk dijadikan lahan pertanian, serta jenis komoditas pertanian apa sajakah yang cocok pula di wilayah pertanian tersebut. Sebagai contoh, untuk menentukan wilayah yang cocok dijadikan perkebunan kelapa sawit, maka sebagai bahan pertimbangan awal diperlukan letak ketinggian wilayah tersebut dari peta topografi atau peta rupa bumi. Apabila ditemukan letak ketinggian antara 400-1000 m dpl, maka sangat cocok untuk dijadikan lahan perkebunan sawit karena pada ketinggian tersebut tanaman holtikultura dapat hidup dan berkembang. Berdasarkan peta jenis tanah

       Kabupaten Enrekang, diperoleh bahwa jenis tanah Kecamatan Cendana adalah jenis tanah Aluvial Hidromorf, dimana jenis tersebut juga dapat dilihat pada sebagian besar wilayah Kecamatan Bungin, Kecamatan Buntubatu, Kecamatan Baraka, dan Kecamatan Curio, serta sebagian kecil jenis tanah tersebut dapat ditemukan di Kecamatan Enrekang dan Kecamatan Maiwa (Hasriyanti, dkk, 2016: 12-

        Jenis tanah aluvial hidromorf ini masih muda, belum mengalami pengembangan, berasal dari bahan induk aluvium, tekstur beraneka ragam, belum terbentuk tekstur, konsistensi dalam keadaan basah lekat, PH bermacam-macam, kesuburan sedang hingga tinggi. Tanah aluvial hanya meliputi lahan yang sering atau baru saja mengalami banjir, sehingga dapat dianggap masih muda dan belum ada diferensiasi horison. Endapan aluvial yang sudah tua dan menampakkan akibat pengaruh iklim dan vegetasi tidak termasuk aluvial. Jenis tanah ini perkembangannya lebih dipengaruhi oleh faktor lokal, yaitu topografi merupakan dataran rendah atau cekungan, hampir selalu tergenang air, solum tanah sedang, warna kelabu hingga kekuningan, tekstur geluh hingga lempung, struktur berlumpur hingga masif, konsistensi lekat, bersifat asam (pH 4.5 - 6.0), kandungan bahan organik (Hasriyanti, dkk, 2016: 17-18).

       Menurut Sunarko (2007), kesesuaian lahan Kelapa sawit dapat tumbuh di berbagai jenis tanah, seperti tanah podsolik, latosol, hidromorfik kelabu, regosol, andosol, dan alluvial. Tanah gambut juga dapat ditanami kelapa sawit asalkan ketebalan gambutnya tidak lebih dari satu meter dan sudah tua (saphrik). Tanaman kelapa sawit dapat tumbuh baik di tanah yang bertekstur lempung berpasir, tanah liat berat, tanah gambut memiliki ketebalan tanah lebih dari 75 cm; dan berstruktur kuat. Tanaman kelapa sawit membutuhkan unsur hara dalam jumlah besar untuk pertumbuhan vegetatif dan generatif. Selain itu, pH tanah sebaiknya bereaksidengan asam dengan kisaran nilai 4,0 - 6,0 dan ber pH optimum 5,0 - 5,5. 

       Jika melihat pada aspek topografi, sebagian besar wilayah dengan jenis tanah aluvial hidromorf pada ketinggian 400-1000 m dpl dikategorikan sebagai lahan berpotensi cocok untuk perkebunan kelapa sawit di Kecamatan Cendana Kabupaten Enrekang (Hasriyanti, dkk, 2016: 16-19).

KESIMPULAN

        Taksonomi merupakan sistem klasifikasi tanah yang dibuat oleh USDA dengan tujuan untuk pemanfaatan tanah pada bidang pertanian. Taksonomi membagi tingkatan tanah kedalam 6 kelas dimana Ordo yang memiliki 12 jenis menempati tingkatan teratas dalam taksonomi. Klasifikasi tanah dibentuk atas dasar usia tanah, unsur-unsur kimia maupun organik yang terkandung serta pengaruh iklim wilayah perkembangan tanah. Sebab, pembentukan tanah sangat dipengaruhi oleh hal-hal tersebut. USDA menjadi kiblat internasional dalam mengklasifikasikan tanah karena USDA selalu memperbarui sistem klasifikasinya apabila telah terjadi perubahan pada wilayah perkembangan suatu tanah. Sistem taksonomi tanah akanberujung pada pemetaan tanah yang sangat berfungsi bagi petani, pemerintah maupun peneliti dalam melaksanakan pekerjaannya masing-masing.

DAFTAR PUSTAKA

Hasriyanti, dkk. 2016. Aplikasi Peta Jenis Tanah dalam Mengidentifikasi Lahan
Berpotensiuntuk Perkebunan Kelapa Sawit di Kecamatan Cendana Kabupaten Enrekang. Jurnal Pendidikan Geografi. Vol 21. No 1. Hal: 12-
Sartohadi, Junun, dkk. 2013. Pengantar Gegrafi Tanah. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Soil Survey Staff. 2014. Kunci Taksonomi Tanah. Edisi Ketiga, 2015. Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.